Entering the fourth year of the establishment of the Applied Master of Tourism Business Planning (Matrappar) Tourism Department, Politeknik Negeri Bali, the rising study program is holding Green Tourism International Seminar & Entrepreneurship Expo (GTISEE) 2022. GTISEE 2022 which is the third series event after 2020 and 2021 is held in a hybrid meeting from Widya Padma Hall Politeknik Negeri Bali on 30 and 31 May 2022. As the name suggests, this annual event consists of international seminars on green tourism and stakeholder meetings for the development of tourism entrepreneurship itself.

     Green tourism is a scientific and practical phenomenon in tourism development based on the balances of ecological sustainability (“planet”), economic sustainability (“profit/prosperity”), and socio-cultural sustainability (“people”). In the local institutional context, green tourism is a development paradigm for the tri dharma perguruan tinggi of Politeknik Negeri Bali which manifests itself in the learning and curriculum; research and publications; and community service. Uniquely, until now, it has never been found in the world any global seminars with a specific theme “green tourism”.

The head of Tourism Department Politeknik Negeri Bali, Prof. Ni Made Ernawati MATM, PhD, in a virtual committee meeting on March 18, 2022, said that the seminar session will be filled with domestic and foreign speakers. The entrepreneurship expo session includes business coaching for millennials, job fairs, and several other related activities. Ernawati did not forget to ask for the support of all parties to jointly make this agenda a success.

     Dewa Gede Putrayadnya as the Head of the GTISEE-2022 Committee conveyed his readiness to hold this big event in a hybrid form in the midst of the global tourism situation which began to gradually improve. This Matrappar Gen3 student who is also the Director of Learning and Development of The St. Regis Bali Resort is optimistic that this event will receive a positive response from the market, even though May will soon be here. “We hope that GTISEE 2022 will provide added value not only for the existence of Matrappar and Tourism Department and Politeknik Negeri Bali but also for noble efforts in developing green tourism for a better life,” he said excitedly.            The seminar session is supported by International Journal of Green Tourism Research and Applications (IJOGTRA/Sinta 4).  Regarding the seminar, papers from prospective presenters can be submitted (Deadline: 21 May 2022) at [email protected] (WA +6281239997510). The best papers can be published on IJOGTRA. Because the seminar is a hybrid, the presenters can choose whether they want to present offline at Politeknik Negeri Bali campus or online [igm].

Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali menangguk prestasi lumayan membanggakan di tahun 2021. Untuk menyebut beberapa terpenting di antaranya, keempat program studi yang ada, yakni Usaha Perjalanan Wisata; Perhotelan; Manajemen Bisnis Pariwisata; Perencanaan Pariwisata Program Magister Terapan, berhasil memeroleh predikat terakreditasi internasional AQAS meskipun masih ada sedikit proses lebih lanjut.             Di pengujung tahun, International Journal of Green Tourism Research and Applications (https://ojs.pnb.ac.id/index.php/IJOGTRA) yang dibesut oleh Ketut Tom Sutama dan dibantu Yuniastari dan Krisna Arta terlimpahkan sebuah kado manis: Terakreditasi SINTA (Science and Technology Index) peringkat 4.

Ketut Tom menuturkan, setelah ini, pihaknya segera berbenah lagi khususnya untuk aspek-aspek go international-nya dengan penggunaan sejumlah editor dan reviewer dari berbagai negara dan mengundang penulis-penulis mancanegara. Kekuatan dari jurnal ini adalah semangatnya dalam pendiskursusan green dalam semua gerak kepariwisataan. “Green” sendiri adalah kata yang sangat bertuah untuk Politeknik Negeri Bali karena menjadi paradigma kelembagaan pengembangan tri darma perguruan tinggi vokasi ini. Pilihan green unik untuk lembaga maupun untuk penamaan jurnal. “Anda boleh cek di Google, tak ada satu pun jurnal di seluruh dunia bernama green tourism”, ujarnya berpromosi.

            Sampai saat ini, di Politeknik Negeri Bali terdapat tiga jurnal berkualitas dengan brand pariwisata. Dua lainnya adalah International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events (IJASTE/Terakreditasi SINTA 3) dan Journal of Travel and Hospitality (JASTH/Terakreditasi SINTA 5). Harapannya ke depan (di tahun baru) adalah, semua jurnal ini segera mentas ke SINTA 2 sembari mengasah kekuatan menuju jurnal-jurnal internasional.

            Tentu internasionalisasi jurnal-jurnal kepariwisataan di atas senada dengan gerakan-gerakan internasionalisasi yang sedang digencarkan Politeknik Negeri Bali. Jurnal-jurnal ini sedang menata dirinya menuju posisi jurnal ter-SCOPUS. Kebetulan ketiga jurnal ini sudah memiliki bekal sitasi terkait, bahkan IJASTE sudah punya 10 sitasi. Di era pandemic Covid-19 yang belum selesai ini, mari berdoa agar para punggawa IJOGTRA, IJASTE, dan JASTH tetap terberkati sehat dalam perjuangannya menuju cita-cita internasionalnya… [m]

Program Studi Perencanaan Pariwisata Program Magister Terapan, Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali tahun ini (2021) tercatat meluluskan semua 28 mahasiswanya di mana lima di antaranya tergolong lulusan double-degree (gelar ganda) dengan Angers University, Perancis. Selain memeroleh gelar di Matrappar (M.Tr.Par), para lulusan double-degree memeroleh gelar dari Angers (M.Pro.).

            Bekerja sama dengan perwakilan alumni, di pengujung tahun, 31 Desember, program studi yang kondang dengan brand Matrappar (Magister Terapan Perencanaan Pariwisata) ini mendirikan MatraFam (singkatan Matrappar Family) yakni organisasi alumni atau lulusan Matrappar. Adapun para anggota yang tergabung sejumlah 27 karena seorang alumni telah almarhum. Kebetulan alumni yang sudah tiada tersebut adalah I Nyoman Budi Arma, SE, M.Tr.Par, koordinator tingkat (ketua kelas) mahasiswa Gen1 (generasi pertama) yang menjadi basis keanggotaan pertama MatraFam. Hadir dalam rapat yang diselenggarakan di Widyawisata Room ini Ketua dan Sekretaris Jurusan Pariwisata Prof Ni Made Ernawati, MATM, Ph.D dan Dr Gede Ginaya, M.Si; Kaprodi Matrappar Dr I Made Darma Oka, SST.Par, M.Par; dosen Matrappar Dr I Gede Mudana, M.Si serta sejumlah lulusan yang mewakili seluruh lulusan Matrappar.             Secara struktural-keorganisasian, MatraFam tidaklah eksklusif karena dengan sendirinya ia merupakan bagian dari IKA Par (Ikatan Alumni Jurusan Pariwisata) Politeknik Negeri Bali yang dengan demikian juga di bawah IKA PNB (Politeknik Negeri Bali). Namun demikian, kekhususan-kekhususan yang dimiliki para anggotanya menyebabkan harus dibentuk organisasi ini dalam rangka ikut mempromosikan dan mengembangkan lembaga Politeknik Negeri Bali, khususnya Matrappar, di samping membantu penyaluran-penyaluran kebutuhan training mahasiswa program diploma karena sebagian anggota MatraFam adalah pemimpin-pemimpin di industri pariwisata.

Terpilih sebagai ketua umum adalah Nyoman Bibit Bintang Bithara, M.Tr.Par, M.Pro; wakil ketua umum I Nyoman Purna Wirananta SST.Par, M.Tr.Par, dan sekretaris Ni Wayan Budi Purnama Dewi, SE, M.Tr.Par. Kepengurusan selengkapnya akan diumumkan di awal tahun depan sekaligus sosialisasi MatraFam ke publik di salah restoran baru milik anggota MatraFam [anadum].

PNB Siapkan Program Doktor Terapan Pariwisata yang Berpeluang Pertama di Indonesia

Bertempat di Gedung Widya Guna, Jurusan Pariwisata melaksanakan workshop nasional sehari bertema “Doktor Terapan dalam Sistem Pendidikan Politeknik” Jumat, 03 Desember 2021. Tujuan workshop tidak lain adalah membuka dan membuat jalan bagi terwujudnya Program Studi Bisnis Pariwisata Program Doktor Terapan di Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali. Workshop yang berlangsung hybrid –offline dan online—ini menghadirkan Tim Pengembangan Perguruan Tinggi Program Vokasi Kemendikbudristek, Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, dan Koordinator Tim Pengusul Program Studi Bisnis Pariwisata Program Doktor Terapan Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali.

Lipur Sugiyanta ST, M.Kom, Ph.D yang mewakili  Tim Pengembangan Perguruan Tinggi Program Vokasi secara daring menyampaikan bahwa instrumen di Silemkerma untuk program doktor terapan saat ini sedang dipersiapkan. Draftnya sedang disusun sehingga di website hanya tertulis “coming soon”. Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta ini banyak menyampaikan hal-hal rinci yang harus dipersiapkan untuk mendirikan program doktor terapan, mulai dari kelayakan dosen hingga kurikulum dan aspek-aspek fisik yang mendukung.

Prof Dr I Nengah Dasi Astawa M.Si dalam paparannya secara luring melalui paper “Pendirian Program Doktor Terapan untuk Menguatkan SDM Industri Pariwisata” menuturkan, bila proyek percontohan Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali ini berhasil, ia sangat berpeluang menjadi program studi doktor terapan pertama di negeri ini. Lebih khusus lagi, program ini akan mensuplai SDM berkepakaran tinggi bagi dunia bisnis pariwisata dan keberhasilan entrepeneurship terkait, lebih-lebih Bali adalah destinasi wisata dunia yang sangat ramai kunjung. Pihaknya (LLDIKTI Wilayah VIII) tentu bersyukur karena keberhasilan Prodi ini akan menunjukkan eksistensi kelembagaan yang dipimpinnya. Sementara pembicara ketiga Dr I Gede Mudana M.Si mewakili Tim Pengusul Program Studi Bisnis Pariwisata Program Doktor Terapan Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali menunjukkan kesiapan pihaknya dalam pembentukan Prodi ke-20 di Politeknik Negeri Bali dan kelima di Jurusan Pariwisata ini. Darinya tampak semua hal sudah disiapkan seperti aspek-aspek pengisian kisi-kisi instrumen, termasuk latar pendirian Prodi, nama Prodi, profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, kurikulum, dan kelengkapan-kelengkapannya. Menurutnya, pihaknya hanya sedang menunggu instrument program doktor terapan di Silemkerma saja.

Berfoto bersama seusai Workshop Nasional Doktor Terapan dalam Sistem Pendidikan Politeknik di Widya Guna, Jumat 03 Desember 2021 yang berlangsung secara hibrid.

Workshop dibuka oleh Wakil Direktur III I Gusti Ngurah Bagus Catur Bawa, ST, M.Kom mewakili Direktur Politeknik Negeri Bali yang pada saat bersamaan diundang langsung Gubernur Bali terkait penyampaian konsep Ekonomi Kerthi Bali di tempat lain. Dalam sesi penutupan acara, Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi, SE, MeCom yang hadir secara luring menyampaikan dukungannya dalam berbagai hal untuk memajukan Politeknik Negeri Bali melalui pendirian program doktor terapan pariwisata yang berada di jenjang 9 KKNI. Infrastruktur dan suprastruktur sudah dipersiapkan termasuk memajukan para dosennya untuk nantinya mengawal program studi kebanggan ini sebagai kelanjutan pembentukan Program Studi Perencanaan Pariwisata (Matrappar) yang baru tiga tahun sudah sangat laku dan dikenal. Sementara Ketua Jurusan Pariwisata Prof Ni Made Ernawati, MATM, Ph.D mengungkapkan, bila projek ini berhasil segera, tentu Jurusan Pariwisata sebagai salah satu garda depan Politeknik Negeri Bali akan memiliki jenjang pendidikan yang lengkap mulai dari diploma, S-1 terapan, magister terapan, hingga doktor terapan. Karenanya, menurut guru besar pariwisata ini, semua pihak termasuk kalangan industri yang menjadi stakeholder Politeknik Negeri Bali agar mendukungnya secara nyata. [anadum]

Program Studi Perencanaan Pariwisata Program Magister Terapan Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali yang kondang disebut Matrappar sejak akhir November 2021 sudah mulai menerima pendaftaran calon mahasiswa baru angkatan 2022/2023. Kelak para mahasiswa yang diterima dijuluki Matrappers Gen4 (mahasiswa Matrappar generasi atau angkatan keempat). Kuliah akan dimulai pada semester ganjil 2022/2023.

Menurut Ketua Jurusan Pariwisata Prof Ni Made Ernawati MATM, Ph.D, pemajuan pendaftaran ini dilakukan mengingat banyaknya calon mahasiswa baru yang sudah menghubungi pihaknya dan mendesak untuk segera dibukakan pendaftaran. Karenanya program studi terkait sudah membuka link pendaftaran di https://bit.ly/matrapparadmissiongen4. Biaya pendaftaran dan SPP masih sama dengan tiga angkatan sebelumnya, yaitu Rp 600.000 dan Rp. 7.500.000. Program ini tetap berlangsung dalam empat semester di mana kuliah teoretisnya hanya berlangsung dua semester. Tidak menutup kemungkinan pendaftaran akan ditutup lebih dini bila jumlah pendaftar membludak. Hal ini karena Prodi yang sudah terakreditasi BAN-PT dan sedang menjalani akreditasi internasional ini secara konsisten menjalankan prinsip “quality first”.

Seperti diketahui, Matrappar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dalam berbagai aspeknya. Sejak dibuka tahun 2019, 50-an calon mahasiswa yang melamar di The School of Managers in Tourism ini terus merangkak naik. Jumlah mahasiswa yang diterima pada tahun terakhir (2021) adalah 36. Mereka berasal dari berbagai daerah, suku, agama, dan kebudayaan di Indonesia. Asal S1/D4-nya pun beragam. Hampir semuanya sudah memiliki bidang pekerjaan di bidang pariwisata. Di antara mereka adalah GM-GM dan direktur industri pariwisata di Bali dan beberapa dari luar Bali. 2022 sendiri merupakan tahun internasionalisasi baik bagi Matrappar dan Jurusan Pariwisata maupun Politeknik Negeri Bali. Pada tahun tersebut, sejumlah mahasiswa double-degree dari Angers University, Perancis, berencana datang untuk kuliah di Kampus Matrappar, sehingga komunikasi pembelajaran akan dilakukan setidaknya bilingual (Inggris-Indonesia). Tentu kurikulum, metodologi pembelajaran, kompetensi pengajar, publikasi jurnal, dan hal-hal terkait lainnya sudah disiapkan sedemikin rupa. Paradigma pendidikan “problem-based learning” merupakan kekuatan program studi ini yang dipadankan dengan persoalan-persoalan masa kini bisnis kepariwisataan global lengkap dengan aspek-aspek pemanfaatan teknologi informasi yang ramah alam, lingkungan, dan ekologi serta ramah manusia sesuai garis green tourism.

Keuntungan bagi calon mahasiswa baru Matrappar sebagai berikut:

  • Kampus berada di tengah-tengah segitiga emas industri pariwisata global Bali: Kuta-Sanur-Nusa Dua
  • Terakreditasi nasional (BAN PT) dan sedang proses akreditasi internasional (AQAS-Eropa)
  • Kurikulum internasional berparadigma problem-based learning dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan komunikasi pembelajaran bilingual (Inggris-Indonesia)
  • Mempublikasi quality journals (IJASTE, JASTH, IJOGTRA)
  • 33% dosen tetap guru besar (profesor) plus dosen-dosen industri
  • Menyediakan Double-Degree (program dua gelar magister) dengan Angers University, Perancis (berbahasa Inggris)
  • Menerima calon mahasiswa dari lulusan S1/D4 semua bidang ilmu.

Sila segera mendaftar bila tidak ingin ketinggalan. Pendaftaran dapat dilakukan di: https://bit.ly/matrapparadmissiongen4. Ikuti dinamika perjalanan dunia pendidikan Matrappar di website: matrappar.pnb.ac.id atau Youtube, FB, dan IG matrappar. Pesan Matrappar: “Jadilah pemimpin-pemimpin unggul industri pariwisata yang bisa mengalahkan ketidakpastian masa depan…” [WA. +6281239997510/i gede mudana].

Bertepatan diadakannya Open House Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali (PNB) 2021, kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) jurusan ini, termasuk Program Studi Perencanaan Pariwisata, Program Magister Terapan, secara formal telah divalidasi oleh wakil masing-masing stakeholder yaitu pemerintah, asosiasi kepariwisataan, industri pariwisata, dan akademisi, di Gedung Widya Padma PNB Senin pagi, 30 Agustus 2021. Penanda tangan kurikulum di antaranya terdiri atas I Putu Astawa (pemerintah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali); Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (asosiasi pariwisata, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Bali); Dewa Gede Putra Yadnya (industri pariwisata, Direktur Learning and Development The St Regis Bali Resort); dan I Nyoman Abdi (akademisi, Direktur Politeknik Negeri Bali). Acara Open House dan Validasi Kurikulum dengan protokol kesehatan sangat ketat ini dihadiri Direktur Politeknik Negeri Bali beserta jajarannya, Ketua Jurusan Pariwisata dan semua Koordinator Program Studi, serta wakil dari masing-masing stakeholder serta wakil mahasiswa dan beberapa undangan lainnya.

Dengan tervalidasinya kurikulum MBKM, ini berarti Jurusan Pariwisata dan Prodi Matrappar terhitung sejak tahun akademik 2021/2022 yang dimulai pertengahan September ini resmi menjalankan kurikulum hasil kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Tentu saja kurikulum ini tidak disusun begitu saja tetapi melalui riset-riset mendalam serta review pengalaman panjang Jurusan Pariwisata dan Politeknik Negeri Bali dalam bekerja sama dengan industri pariwisata bahkan sejak awal berdirinya lembaga ini yaitu 1987.

Menurut Direktur Politeknik Negeri Bali, I Nyoman Abdi SE, MeCom, sebenarnya konsep kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka sudah sejak awal dilakukan di semua jurusan dan program studi di PNB karena PNB sebagai bagian dari pendidikan vokasi menganut paradigma terapan (applied) dengan sistem problem-based learning-nya. Buktinya mahasiswa memiliki kesempatan magang secara intens di industri-industri terkait. “Sudah menjadi tradisi pendidikan vokasi bahwa apa yang dibahas di kampus adalah apa yang benar-benar terjadi dan menjadi permasalahan di industri-industri terkait. Dari situ terjadi super-link dan super-match antara PNB dan industri-industri terkait” tandas direktur yang berhasil membawa kampusnya ber-BLU (badan layanan umum) dan menjadi 10 besar politeknik terbaik di Indonesia 2021.

Dari kiri ke kanan: Ketua kurikulum MBKM Matrappar Prof Dr I Putu Astawa SE, MM; Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi SE, MeCom; Ketua Jurusan Pariwisata Prof. Ni Made Ernawati, MATM, Ph.D dan para wakil asosiasi dan industri pariwisata, sesaat setelah membubuhkan tanda tangan validasi kurikulum jurusan ini di Gedung Widya Padma PNB, Senin 30 Agustus 2021.

Ketua Jurusan Pariwisata Prof Ni Made Ernawati MATM, PhD menyatakan, dengan kurikulum MBKM, pihaknya akan semakin intens berhubungan dengan industri karena kurikulum ini memberikan ruang yang semakin besar bagi pengembangan kemampuan mahasiswa juga bagi pengembangan profesionalisme kelembagaan jurusan dan PNB. Tentu kampus dan stakeholder industri pariwisata saling membutuhkan dan saling memberikan keuntungan. Menurut guru besar lulusan S2 di Inggris dan S3 di Australia ini, tervalidasinya kurikulum jurusan menunjukkan adanya kerja sama yang penuh tanggung jawab antara kampus dan stakeholder. “MBKM memberikan peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa untuk melakukan karya nyata atau menghasilkan produk-produk bisnis real, sehingga ketika tamat mahasiswa tidak sulit mencari pekerjaan dan bahkan sejak magang bisa langsung membuat bisnisnya sendiri, seperti start-up atau bisnis jenis lain terkait digitalisasi”.

Sampai saat ini, dengan jumlah mahasiswa sekira 1.570, Jurusan Pariwisata memiliki empat program studi, yaitu Usaha Perjalanan Wisata (UPW); Perhotelan, Manajemen Bisnis Pariwisata (MBP); dan Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (Matrappar). Kecuali Matrappar yang memeroleh B karena baru berdiri sejak 2019 dan baru menghasilkan lulusan, semua program studi terakreditasi A oleh BAN-PT. Bahkan Oktober tahun ini, semua program studi dijadwalkan mendapat visitasi dari satu badan akreditasi internasional kenamaan yang berpusat di salah satu negara Eropa barat.

Pencapaian Jurusan Pariwisata sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena sejak berdiri kurikulumnya dibuat sangat update, sesuai dengan dinamika industri, dan “goes international”. Beberapa dosennya saat ini sudah guru besar (profesor). Bahkan jurusan ini memiliki tiga jurnal  yang sangat berkualitas yakni (1) International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events (http://dx.doi.org/10.31940/ijaste,  Terakreditasi Sinta 3, sedang menuju Sinta 2); (2) Journal of Applied Sciences in Travel and Hospitality (http://dx.doi.org/10.31940/jasth,  Terakreditasi Sinta 5, sedang menuju Sinta 3); dan (3) International Journal of Green Tourism Research and Applications (http://dx.doi.org/10.31940/ijogtra, menunggu pengumuman Akreditasi Sinta). [mud].

Program Studi Perencanaan Pariwisata, Program Magister Terapan, Politeknik Negeri Bali telah menyelesaikan proyek penulisan modul internasionalnya, pertengahan September 2019. Sesuai visi Prodi yang go international, draft modul berbahasa internasional Inggris tersebut bahkan sudah diterapkan di kelas sejak awal semester ganjil 2019/2020 yang merupakan semester perdana program studi magister terapan satu-satunya di Indonesia ini.

Menurut ketua proyek Dra. Ni Made Ernawati, MATM, Ph.D, kegiatan ini baru mencakup mata kuliah utama. Berarti mata kuliah yang belum terkover akan disusulkan kemudian atau pada proyek berikutnya.  Pada pengerjaan kali ini, yang sudah tuntas adalah (1) Jaringan dan Komunikasi Korporasi Pariwisata (Networking and Corporate Communication in Tourism); (2) Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Pariwisata (Tourism Business Planning and Development); (3) Paradigma Green Tourism (Green Tourism Paradigm); (4) Manajemen Strategis Bisnis Pariwisata (Tourism Business Strategic Management); (5) Globalisasi dan Digitasi Pariwisata (Globalization and Tourism Digitation); (6) Keuangan Manajerial Pariwisata (Tourism Managerial Finance); (7) Pemasaran dan Komunikasi Bisnis Pariwisata (Tourism Business Marketing and Communication); (8) Manajemen Kualitas Bisnis Pariwisata (Tourism Business Quality Management); dan (9) Metodologi Riset Terapan Pariwisata (Applied  Research Methodology in Tourism). Menurut informasi Ketua Program Studi Magister Terapan Perencanaan Pariwisata PNB Dr. I Gede Mudana, M.Si, setiap chapter modul tersebut dibagikan secara online via email kepada seluruh mahasiswa sehingga setiap mahasiswa sudah siap dengan materi yang akan didiskusikan begitu mata kuliah yang bersangkutan berlangsung. “Ini bagian dari upaya untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada mahasiswa”, ujarnya bersemangat di tengah kesibukannya merencanakan dan merancang promosi untuk penjaringan calon mahasiswa baru 2020/2021 (igm).

Situasi pandemi Covid-19 yang sedang dihadapi bersama menuntut para pelaku usaha kepariwisataan merombak ulang strategi mereka dalam memberlakukan pariwisata keberlanjutan yang harus menyesuaikan standar protokol kesehatan dan gaya hidup new-normal. Karenanya Program Magister Terapan Peencanaan Pariwisata (Matrappar), Jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali menggelar Matrappar Webinar Series 3, Selasa, 29 September 2020, pukul 14.00-16.00, via Zoom dengan tema “Strategic Reframing of Sustainable Tourism Industry During Covid-19 Pandemic: A foresight of TUNA Scenario Matrix”. Webinar yang dibuka oleh Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi SE, M.Si ini dipandu moderator kenamaan Erika Sedana, mahasiswa Matrappar yang juga Direktur Utama Moritz Logistics Indonesia ini diikuti oleh dua ratusan peserta dari seluruh Indonesia dan negera tetangga, Malaysia dan Singapura, serta Australia.

Salah seorang pembicara Suzy Hutomo CEO of the Body Shop Indonesia, memaparkan dengan sangat baik bahwa isu pariwisata keberlanjutan pada era ini telah menjadi tren di kalangan para wisatawan. Berdasarakan survey yang dilakukan oleh Agoda dan Booking,com secara daring, sekitar 58% – 68% wisatawan memilih untuk tinggal di properti yang eco-friendly. Dalam sebuah press release oleh Agoda International Indonesia Country Director, Gede Gunawan, menyebutkan bahwa sekitar 40% wisatawan akan menghabiskan ekstra $10 per malam untuk tinggal di property yang memiliki konsep wisata berkelanjutan. Lebih lanjut, situs www.tourismtiger.com menyebutkan bahwa 60% wisatawan tidak keberatan untuk membayar lebih untuk brand property yang memiliki konsep wisata berkelanjutan yang menunjukkan komitmen dari brand itu kepada nilai sosial dan lingkungan.

Pada situasi new normal saat ini, selain pemilihan property yang eco-friendly, wisatawan juga memikirkan tentang apakah destinasi yang akan mereka kunjungi memiliki perencanaan pariwisata yang komprehensif untuk protokol kesehatan terkait dengan Covid-19 dan bagaimana kurva dari Covid-19 itu sendiri di daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi. Dengan adanya pandemic ini dan diterapkannya kehidupan secara new normal, maka seluruh aspek bidang usaha harus menyesuaikan dengan SOP yang berlaku dan membuat strategi baru untuk menjalankan usaha mereka di era new normal ini.

Menurut Rafael Ramirez and Angela Wilkinson dalam bukunya yang berjudul Strategic Reframing, The Oxford Scenario Planning Approach, mendeskripsikan T.U.N.A. yang merupakan singkatan dari Turbulence, Unpredictable Uncertainty, Novelty & Ambiguity yang berfokus dalam menginformasikan pendekatan baru untuk strategi dan kebijakan dalam konteks yang menunjukkan turbulensi, ketidakpastian, kebaruan, dan ambiguitas. Elemen yang ada pada T.U.N.A. memicu orang-orang untuk mencari metodologi yang memungkinkan untuk dibuatnya strategi baru yang sesuai dengan situasi saat ini. Hampir seluruh individu dan institusi secara global merasakan bahwa saat ini mereka sedang menghadapi perubahan yang cukup “mengganggu” industri mereka untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka dari segi komersial atau lainnya. Meskipun perubahan sacara mendadak seperti ini bukanlah fenomena yang sangat baru, namun ada sejumlah alasan mengapa era saat ini memicu dirasakan perlu untuk mengembangkan strategi baru yang tidak hanya untuk mengatasinya tetapi juga untuk melakukannya dengan lebih baik kedepannya.

Seperti dikatakan oleh pembicara lainnya Levie Lantu yang berada di Australia pada webinar kali ini, TUNA merupakan suatu sistem kepemimpinan yang mengacu pada kerangka mental pemimpin atau paradigma – target perencanaan skenario. Masalah utama, yang bisa dibilang masalah utama dalam mengelola dunia TUNA dengan sukses adalah “kekakuan bingkai”, ketika model mental pemimpin tidak cukup luas atau cukup fleksibel untuk melihat (atau menganggap serius) semua alternatif, hasil yang masuk akal yang penting Dalam masa pandemic ini, semua leader dibuat harus berpikir keras dan sangat berhati-hati dalam mengambil langkah untuk masa depan perusahaan mereka, serta melihat warning signal yang ada untuk mengidentifikasi pasar dengan menggunakan teknologi yang applicable untuk perusahaan mereka. Hal ini membuat para leader dituntut untuk memiliki mental “reframing” dimana para leader harus merombak ulang kerangka berpikir mereka. TUNA membuat para leader dapat memberikan kontribusi pendapat dan mengemukakan pandangan mereka secara bebas mengenai situasi yang terjadi saat ini. Pendapat yang dikemukakan dari para leader mungkin tidak familiar di kalangan para pakar dan pengajar karena situasi yang sedang kita hadapi adalah situasi yang tidak menentu yang kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.

Perencanaan skenario digunakan untuk lebih memahami konteks dan memahami kompleksitasnya. Skenario harus menantang, tetapi tidak terlalu menantang. Banyak perusahaan atau industri dimana mereka sudah memiliki asumsi masa depan yang mereka siapkan saat ini. Sementara Perencanaan skenario TUNA dapat digunakan untuk menantang asumsi dan strateginya. Pemahaman yang berkelanjutan mengacu pada mengizinkan orang-orang dalam suatu organisasi untuk selalu waspada sepanjang waktu. Artinya, indikator untuk setiap skenario harus diidentifikasi untuk melihat tanda-tanda awal. Perencanaan skenario dapat digunakan untuk keterlibatan, yang berarti membangun jembatan dan membentuk kolaborasi yang berfokus pada mempengaruhi dan mengkomunikasikan.

Contoh, saat merger besar antara perusahaan Starwood dan Marriott International, awalnya terjadi beberapa ketidakcocokan dalam banyak hal, dari sisi people, process, dan system. Tetapi kemudian setelah melakukan skenario untuk mulai bekerja sama dan melakukan yang terbaik untuk di masa depan, perusahaan ini menjadi semakin kuat dan menjadi perusahaan hotel industri terbesar di dunia. Dalam situasi pandemic seperti ini, dengan melakukan skenario TUNA ini menjadikan perusahaan ini tetap struggle dan masih bisa menjalankan bisnisnya walaupun dengan kondisi yang tidak normal. Nilai yang paling menonjol diperoleh dari penerapan TUNA Scenario Matrix berdasarkan contoh di atas adalah bisnis dan sosial-budaya. Seperti yang telah disebutkan, perubahan besar terjadi dari sisi people, process dan system selama masa integrasi dari merger ini. Setiap karyawan harus beradaptasi dengan cara kerja dan sistem yang baru karena target bisnis yang ingin dicapai oleh perusahaan yang baru tidak lagi sama dengan yang lama.

Pendekatan TUNA gayut dikenakan untuk industri pariwisata di masa-masa pendemi Covid-19 dan saat-saat paceklik wisatawan seperti ini (Lianda Ayu Puspita, mahasiswa Matrappar Gen1).

Webinar  Series 3 Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (MATRAPPAR), Jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali pada Selasa, 29 September 2020, pukul 14.00-16.00 Waktu bali via Zoom, mengangkat topik “Strategic Reframing of Sustainable Tourism Industry During Covi -19 Pandemic: A foresight of TUNA Scenario Matrix”. Webinar Matrappar kali ini menghadirkan beberapa speaker kondang di mana masing-masing speaker memberikan pandangannya mengenai pariwisata berkelanjutan dari persepektif mereka dan bidang yang mereka geluti. Dengan host Erika Sedana yang sangat mumpuni, topik ini menarik untuk diangkat dalam webinar kali karena terkait erat dengan pemulihan pariwisata Bali selama pandemic covid-19. Webinar dibuka oleh Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi SE, MeCom.

TUNA sendiri adalah turbulence (turbulensi) menunjukkan betapa besarnya potensi gejolak dari perubahan yang di masa depan terjadi. Uncertainty artinya ketidakpastian. Maka diperlukan keahlian dalam menganalisis segala sesuatu yang tidak pasti agar kita dapat dengan cepat mengambil keputusan dalam bertindak. Novelty (kebaruan) yang menyatu dengan kerateristik masa depan dibawa oleh para pembaharu ekonomi. Ambiguity akhirnya muncul di mana kita mengalami kesulitan dalam memahami isu yang dikarenakan ada banyaknya faktor yang masuk dalam satu isu. Maka dari itu, mengkritisi sebuah informasi dengan dapat memilih informasi yang akurat dapat membantu kita mengetahui kebenaran suatu isu. Kebaruan membutuhkan pembaruan berpikir, sehingga apa yang kita tahu terkadang kurang relevan dan yang relevan adalah seberapa baik kita mencari tahu dan berkolaborasi dengan yang tahu. Tantangan masa depan di area unknown-unknown yang mengandung potensi disrupsi inilah yang sangat penting diperhatikan. Maka dari itu TUNA screnario matrix ini dianggap dapat menjawab tuntutan untuk mereframing strategi indurti pariwisata berkelanjuta pada masa pandemi.

TUNA adalah suatu sistem leadership yang akan memberikan acuan atau tekanan kepada para leader atau calon leader agar bersiap menghadapi pembaruan yang mungkin akan menimbulkan gejolak dan dihadapkan kepada ketidak pastian situasi dan kondisi di masa pandemic ini. Jadi semua leader harus mulai memikirkan strategi apa yanga akan dipersiapkan dan digunakan. Satu yang pasti strategi ini harus terkait dengan environmental dan dekat dengan bumi/alam. TUNA memberikan kebebasan dalam penyampaian ide dari para leader, yang akan memicu terjadinya diskusi yang lebih baik antara pemangku kepentingan tanpa merasa bahwa ide yang disampaikan salah. Dengan TUNA scenario matrix, maka diharapkan reframing strategi untuk pengembangan industri pariwisata berkelanjutan akan lebih terfokus kepada masyarakat kita sendiri bukan semata-mata memenuhi keinginan / kebutuhan pasar. TUNA scenario matrix ini akan menekankan kepada perlindungan terhadap masyarakat local dan segala aspek yang terdapat didalamnya baik itu adat, budaya, cara hidup, kehidupan ekonomi dan sosial serta lingkungan sekitar termasuk alamnya. Jika ingin betul-betul menerapkan TUNA scenario matrix ini, maka pengertian terhadap masyarakat kita sendiri harus diperbaiki dan ditingkatkan. Jangan sampai apa yang menjadi kepentingan masyarakat disingkirkan oleh kepentingan/keinginan dari wisawatawan itu sendiri. Maka dari itu, melalui reframing strategi ini, lebih terfokus kepada pariwisata berkelanjutan yang bagaimana yang cocok dengan masyarakat kita bukan yang cocok dengan orang luar (wisatawan). Jadi TUNA scenario matrix ini nantinya diharapkan akan dapat memberikan proteksi yang maksimal kepada masyarakat local agar mereka dapat merasakan hasil dari pembanguna sustainable tourism secara lebih riil.

Dr. Hilton Fisher duta besar/Ambassador of The Republic of South Africa for Indonesia secara garis besar memaparkan bahwa sustainable tourism adalah sebuah konsep yang sangat tepat untuk dikembangkan selama pandemic covid-19. Karena wisatawan yang akan berkunjung ke suatu negara atau daerah, akan melihat bagaimana sustainable tourism itu dilaksanakan di tempat tersebut. Afrika Selatan sangat concern dengan konsep sustainable tourism. Bahkan Mossel Bay , Cape Town di Africa Selatan menjalin kerjasama kesepakatan dengan kota Denpasar  dalam bentuk sister city. Dr. Fisher juga menekankan bahwa bagaimana Bali harus bertindak untuk pariwisata agar kembali bisa menarik wisatawan, utamanya dari Afrika Selatan untuk kembali berkunjung.

Suzy Hutomo yang merupakan Chairman The Body Shop Indonesia mengulas mengenai kecenderungan perkembangan pariwisata beberapa tahun kebelakang. Dimana para wisatawan mulai mengalihkan pilihan mereka untuk mengunjungi daerah tujuan wisata yang mengembangkan sustainable tourism. Bahkan dari data yang diberikan, dikatakan bahwa 40% wisatawan saat ini rela membayar sekitar US$10 per malam untuk bisa menginap di sustainable property. Issue mengenai sustainable tourism secara signifikan memberikan dampak kepada lingkungan / alam dimana sustainable tourism ini dikembangkan seperti plastic waste, pollution, environment destruction.Tentunya sustainable tourism ini yang dikaitkan dengan pandemic covid-19 yang sedang terjadi di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Trisno Nugroho  (Head of Bank Indonesia Representative in Bali Province)  membahas mengenai kecenderungan covid-19 dari bulan Juli sampai dengan Semtemper 2020. Aktivitas masyarakat mulai bergerak dibeberapa daerah di Indonesia, walapun Bali masih rendah tingkat aktivitasnya. Pak Trisno juga mengemukakan mengenai kondisi perekonomian dunia pada triwlan II berkontraksi berat, Indonesia berkontraksi – 5,4 %. Sementara untuk perekonomian di Bali pada triwulan 2 tahun 2020, karena pembatasan kegiatan, mengalami kontraksi lebih dalam hingga -10,98%.(yoy) Kesehatan menjadi factor penting untuk saat ini, jika ingin memulihka perekonomian. Karena orang mau bepergian untuk berwisata, pasti akan lebih dulu memperhatikan kondisi kesehatan. Selain itu Pak Trisno juga menjelaskan mengenai system pembayaran elektronik yaitu QRIS, dimana system pembayaran ini dapat diterapkan di berbagai sector termasuk pariwisata.

Ketua MASATA dan CEO Raja Mice Panca Rudolf Sarungu banyak memaparkan tentang keberadaan organisasi MASATA (Masyarakat SAdar WIsata), di mana MASATA menjadi organisasi pelaku dan pemerhati pariwisata Indonesia yang berkompeten dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Secara garis besar MASATA memiliki misi untuk memajukan pariwisata Indonesia. Panca juga menyebutkan bahwa Bali disupport oleh pemerintah untuk dapat kembali bangkit selama pandemic covid-19. Pandemi ini membuat pariwisata di negara sekitar kita seperti China, Singapura berada di posisi yang sama dengan kita. Untuk itu sustainable tourism akan menajdi penentu siapa yang akan start lebih awal. Pandemi ini menjadi momentum bagi pariwisata Bali untuk memikirkan kembali tentang konsep pembangunan pariwisata yang ingin dilakukan di Bali.

Bali adalah daerah yang paling terdampak dengan Covid-19 ini. Maka dari itu pengembangan sustainable tourism di Bali menjadi alternative yang sangat patut diperhitungkan jika kita ingin memulihkan kembali pariwisata diBali. Jika dulu Bali melaksanakan mass tourism, maka saat ini Bali harus mulai memikirikan pengembangan pariwisata yang lebih berkualitas , terkoneksi dengan nature/alam. Karena pandemic ini sudah mengubah cara pandang wisatawan dalam menentukan daerah tujuan wisatanya. Bali, menurut Suzy Hutomo, memiliki selling point berupa culture, lifestyle,people dan nature and sustainability. Tetapi di masa pandemi covid-19, Bali harus lebih fokus kepada pengembangan pariwisata yang berbasis sustainability.

Perlu adanya strategi reframing terhadap pariwisata berkelanjutan yang bisa menjadi kekuatan utama dalam memulihkan pariwista selama dan pasca pandemic. Sustainable tourism, menjadi alternative utama karena wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu daerah/negara ke depannya akan sangat concern dengan hal-hal yang terkait sustainability.

Program Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (Tourism Business Planning) Politeknik Negeri Bali melakukan Webinar pada Senin, 08 Juni 2020 via aplikasi Zoom. Webinar series ini tercatat yang pertama di lingkungan PNB.

Webinar series bertema “Strengthening the Role & Building Resilience toward Tourism Recovery 2020” ini merupakan respons positif program studi ini terhadap intens dan masifnya dampak Corona atau Covid 19 bagi pariwisata, dengan hampir tiadanya wisatawan yang sudi berkunjung dan nyaris matinya industri pariwisata yang ada. Dampaknya kepada masyarakat pariwisata Indonesia, bahkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, tak terhitung lagi. Karenanya, diperlukan segera dan sangat mendesak jalan keluar bagi recovery pariwisata Indonesia 2020, termasuk pariwisata Bali.

Menurut Ketua Program Studi Perencanaan Pariwisata PNB I Gede Mudana, Webinar ini merupakan kegiatan sangat strategis bagi Prodi karena beberapa hal. Pertama, ini merupakan pembentukan image lembaga (PNB) yang sangat bagus di mata publik pariwisata nasional dan, secara agak khusus, menjadi promosi langsung maupun tidak langsung bagi Prodi yang berusia satu tahun ini. Dikatakan promosi karena pada saat ini Prodi sedang sibuk melakukan pemasaran dan promosi menuju Ujian Masuk Gelombang 2 yang pendaftaran online-nya di sion.pnb.ac.id ditutup pada 08 Agustus 2020. Kedua, terkait dengan hal tersebut, Prodi ingin menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan virtual dan digital, seperti halnya kelas-kelas online Prodi yang sudah berlangsung sejak awal semester genap ini (sejak Maret tahun ini) adalah sesuatu yang biasa. Artinya Prodi memang digitally friendly sesuai janjinya di awal. Ketiga, dalam konstelasi persaingan antar-Prodi sejenis di Indonesia, Prodi yang berakronim Matrappar (magister terapan perencanaan pariwisata) ini dengan demikian selangkah di depan (istilah kerennya seperti dalam iklan otomotif: semakin di depan) karena ternyata belum ada kompetitor yang tergerak untuk memikirkan Webinar.

Webinar menghadirkan sejumlah pejabat teras perbankan, industri pariwisata, dan asosiasi terkait yang sangat mumpuni di Bali. Mereka adalah Trisno Nugroho MBA (Head of Bank Indonesia Representative in Bali Province), IB Agung Partha Adnyana (Chairman of Bali Tourism Board), Levie Lantu MBA (CEO BaliCEB), IGA Agung Inda Trimafo Yudha (Ketua DPD PUTRI Bali), Gede Gunawan MBA (Senior Country Director Indonesia Agoda International), dan Bagus Ngurah CHA (GM Wyndham Garden). Direktur PNB I Nyoman Abdi SE MeCom akan hadir memberikan welcome remark.

Beruntung Prodi ber-tagline The School of Managers in Tourism ini memiliki seorang mahasiswa andalan, mantan penyiar terkenal televisi, yang rupanya malang melintang di dunia Webinar. Erika Sedana adalah, meminjam istilah netizen, seorang “Ratu Webinar” karena seringnya tampil dan terutama kualitas yang dimilikinya dalam memandu seminar virtual yang hari-hari ini berlangsung sangat marak di Bali. Ketika ditanya bagaimana perasaannya memandu acara untuk Matrappar nanti, Direktur Moritz Logistics Indonesia ini mengaku sangat senang. “Ya, tentu sangat senang dan bangga bisa berbuat dan memajukan lembaga. Toh saya adalah lulusan PNB!”, seloroh perempuan lulusan Jurusan Pariwisata tahun 2000 ini.  

Selaku Ketua Panitia Webinar Series kali ini, Erika menjelaskan, ternyata begitu banyak peserta yang siap mengikuti acara ini. Dua puluh empat jam pertama (31 Mei 2020 pukul 21.15) dishare e-flyer-nya, 158 peserta yang mendaftar. Rian, Kezia, dan tim yang membantu sampai sangat kerepotan merespons pendaftar, di antaranya karena banyak yang menanyakan tentang informasi Webinar di samping juga nyambung tentang persoalan proses kuliah di Matrappar.  Diperoleh informasi bahwa tak sedikit di antaranya berdomisili di luar Bali, bahkan hampir dari semua pulau besar di Nusantara. Syukurlah, semoga acaranya berjalan lancar, dan lebih-lebih bisa menyumbang sesuatu yang signifikan dan bermakna serta benar-benar menyata (konkret) bagi perbaikan pariwisata Indonesia dan Bali yang nyungsep keras sejak merebaknya wabah Covid 19 [Mud]