Duta Besar Afrika Selatan Berbicara di Webinar Series 3 Magister Terapan Perencanaan Pariwisata

Webinar  Series 3 Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (MATRAPPAR), Jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali pada Selasa, 29 September 2020, pukul 14.00-16.00 Waktu bali via Zoom, mengangkat topik “Strategic Reframing of Sustainable Tourism Industry During Covi -19 Pandemic: A foresight of TUNA Scenario Matrix”. Webinar Matrappar kali ini menghadirkan beberapa speaker kondang di mana masing-masing speaker memberikan pandangannya mengenai pariwisata berkelanjutan dari persepektif mereka dan bidang yang mereka geluti. Dengan host Erika Sedana yang sangat mumpuni, topik ini menarik untuk diangkat dalam webinar kali karena terkait erat dengan pemulihan pariwisata Bali selama pandemic covid-19. Webinar dibuka oleh Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi SE, MeCom.

TUNA sendiri adalah turbulence (turbulensi) menunjukkan betapa besarnya potensi gejolak dari perubahan yang di masa depan terjadi. Uncertainty artinya ketidakpastian. Maka diperlukan keahlian dalam menganalisis segala sesuatu yang tidak pasti agar kita dapat dengan cepat mengambil keputusan dalam bertindak. Novelty (kebaruan) yang menyatu dengan kerateristik masa depan dibawa oleh para pembaharu ekonomi. Ambiguity akhirnya muncul di mana kita mengalami kesulitan dalam memahami isu yang dikarenakan ada banyaknya faktor yang masuk dalam satu isu. Maka dari itu, mengkritisi sebuah informasi dengan dapat memilih informasi yang akurat dapat membantu kita mengetahui kebenaran suatu isu. Kebaruan membutuhkan pembaruan berpikir, sehingga apa yang kita tahu terkadang kurang relevan dan yang relevan adalah seberapa baik kita mencari tahu dan berkolaborasi dengan yang tahu. Tantangan masa depan di area unknown-unknown yang mengandung potensi disrupsi inilah yang sangat penting diperhatikan. Maka dari itu TUNA screnario matrix ini dianggap dapat menjawab tuntutan untuk mereframing strategi indurti pariwisata berkelanjuta pada masa pandemi.

TUNA adalah suatu sistem leadership yang akan memberikan acuan atau tekanan kepada para leader atau calon leader agar bersiap menghadapi pembaruan yang mungkin akan menimbulkan gejolak dan dihadapkan kepada ketidak pastian situasi dan kondisi di masa pandemic ini. Jadi semua leader harus mulai memikirkan strategi apa yanga akan dipersiapkan dan digunakan. Satu yang pasti strategi ini harus terkait dengan environmental dan dekat dengan bumi/alam. TUNA memberikan kebebasan dalam penyampaian ide dari para leader, yang akan memicu terjadinya diskusi yang lebih baik antara pemangku kepentingan tanpa merasa bahwa ide yang disampaikan salah. Dengan TUNA scenario matrix, maka diharapkan reframing strategi untuk pengembangan industri pariwisata berkelanjutan akan lebih terfokus kepada masyarakat kita sendiri bukan semata-mata memenuhi keinginan / kebutuhan pasar. TUNA scenario matrix ini akan menekankan kepada perlindungan terhadap masyarakat local dan segala aspek yang terdapat didalamnya baik itu adat, budaya, cara hidup, kehidupan ekonomi dan sosial serta lingkungan sekitar termasuk alamnya. Jika ingin betul-betul menerapkan TUNA scenario matrix ini, maka pengertian terhadap masyarakat kita sendiri harus diperbaiki dan ditingkatkan. Jangan sampai apa yang menjadi kepentingan masyarakat disingkirkan oleh kepentingan/keinginan dari wisawatawan itu sendiri. Maka dari itu, melalui reframing strategi ini, lebih terfokus kepada pariwisata berkelanjutan yang bagaimana yang cocok dengan masyarakat kita bukan yang cocok dengan orang luar (wisatawan). Jadi TUNA scenario matrix ini nantinya diharapkan akan dapat memberikan proteksi yang maksimal kepada masyarakat local agar mereka dapat merasakan hasil dari pembanguna sustainable tourism secara lebih riil.

Dr. Hilton Fisher duta besar/Ambassador of The Republic of South Africa for Indonesia secara garis besar memaparkan bahwa sustainable tourism adalah sebuah konsep yang sangat tepat untuk dikembangkan selama pandemic covid-19. Karena wisatawan yang akan berkunjung ke suatu negara atau daerah, akan melihat bagaimana sustainable tourism itu dilaksanakan di tempat tersebut. Afrika Selatan sangat concern dengan konsep sustainable tourism. Bahkan Mossel Bay , Cape Town di Africa Selatan menjalin kerjasama kesepakatan dengan kota Denpasar  dalam bentuk sister city. Dr. Fisher juga menekankan bahwa bagaimana Bali harus bertindak untuk pariwisata agar kembali bisa menarik wisatawan, utamanya dari Afrika Selatan untuk kembali berkunjung.

Suzy Hutomo yang merupakan Chairman The Body Shop Indonesia mengulas mengenai kecenderungan perkembangan pariwisata beberapa tahun kebelakang. Dimana para wisatawan mulai mengalihkan pilihan mereka untuk mengunjungi daerah tujuan wisata yang mengembangkan sustainable tourism. Bahkan dari data yang diberikan, dikatakan bahwa 40% wisatawan saat ini rela membayar sekitar US$10 per malam untuk bisa menginap di sustainable property. Issue mengenai sustainable tourism secara signifikan memberikan dampak kepada lingkungan / alam dimana sustainable tourism ini dikembangkan seperti plastic waste, pollution, environment destruction.Tentunya sustainable tourism ini yang dikaitkan dengan pandemic covid-19 yang sedang terjadi di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Trisno Nugroho  (Head of Bank Indonesia Representative in Bali Province)  membahas mengenai kecenderungan covid-19 dari bulan Juli sampai dengan Semtemper 2020. Aktivitas masyarakat mulai bergerak dibeberapa daerah di Indonesia, walapun Bali masih rendah tingkat aktivitasnya. Pak Trisno juga mengemukakan mengenai kondisi perekonomian dunia pada triwlan II berkontraksi berat, Indonesia berkontraksi – 5,4 %. Sementara untuk perekonomian di Bali pada triwulan 2 tahun 2020, karena pembatasan kegiatan, mengalami kontraksi lebih dalam hingga -10,98%.(yoy) Kesehatan menjadi factor penting untuk saat ini, jika ingin memulihka perekonomian. Karena orang mau bepergian untuk berwisata, pasti akan lebih dulu memperhatikan kondisi kesehatan. Selain itu Pak Trisno juga menjelaskan mengenai system pembayaran elektronik yaitu QRIS, dimana system pembayaran ini dapat diterapkan di berbagai sector termasuk pariwisata.

Ketua MASATA dan CEO Raja Mice Panca Rudolf Sarungu banyak memaparkan tentang keberadaan organisasi MASATA (Masyarakat SAdar WIsata), di mana MASATA menjadi organisasi pelaku dan pemerhati pariwisata Indonesia yang berkompeten dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Secara garis besar MASATA memiliki misi untuk memajukan pariwisata Indonesia. Panca juga menyebutkan bahwa Bali disupport oleh pemerintah untuk dapat kembali bangkit selama pandemic covid-19. Pandemi ini membuat pariwisata di negara sekitar kita seperti China, Singapura berada di posisi yang sama dengan kita. Untuk itu sustainable tourism akan menajdi penentu siapa yang akan start lebih awal. Pandemi ini menjadi momentum bagi pariwisata Bali untuk memikirkan kembali tentang konsep pembangunan pariwisata yang ingin dilakukan di Bali.

Bali adalah daerah yang paling terdampak dengan Covid-19 ini. Maka dari itu pengembangan sustainable tourism di Bali menjadi alternative yang sangat patut diperhitungkan jika kita ingin memulihkan kembali pariwisata diBali. Jika dulu Bali melaksanakan mass tourism, maka saat ini Bali harus mulai memikirikan pengembangan pariwisata yang lebih berkualitas , terkoneksi dengan nature/alam. Karena pandemic ini sudah mengubah cara pandang wisatawan dalam menentukan daerah tujuan wisatanya. Bali, menurut Suzy Hutomo, memiliki selling point berupa culture, lifestyle,people dan nature and sustainability. Tetapi di masa pandemi covid-19, Bali harus lebih fokus kepada pengembangan pariwisata yang berbasis sustainability.

Perlu adanya strategi reframing terhadap pariwisata berkelanjutan yang bisa menjadi kekuatan utama dalam memulihkan pariwista selama dan pasca pandemic. Sustainable tourism, menjadi alternative utama karena wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu daerah/negara ke depannya akan sangat concern dengan hal-hal yang terkait sustainability (Eka Yudiati, mahasiswa Matrappar Gen1).

About the Author

Leave a Reply

*